Fenomena globalisasi dan demokratisasi di Indonesia berkembang selaras dengan melajunya teknologi informasi dan transportasi. Perkembangan teknologi ini berlangsung cepat dan berdampak terhadap berbagai perubahan disegala bidang pembangunan dan aspek kehidupan manusia. Sementara itu, kesiapan sumber daya manusia kita, khususnya dibidang pertanian masih berjalan lambat sehingga produk-produk pertanian kita kurang mampu bersaing dengan produk-produk pertanian negara lain.. ..
Kegiatan pembangunan pertanian dewasa ini terlihat menunjukkan adanya pengembangan dan peningkatan baik dari sisi pola usaha dan peningkatan produksi. Peningkatan ini ditandai dengan adanya swadaya pangan pada tahun 2008 yang mampu membangun citra Negara agraris bagi negeri ini.
Olehnya itu perlu adanya tindakan secara berkesinambungan bagaimana membangun para pelaku ditingkat kelompok dengan memberikan kemampuan untuk membangun dan memerankan organisasinya dalam pembangunan pertanian diwilayahnya....
Agri
Training Camp merupakan kegiatan yang diarahkan untuk menumbuhkan Minat,
pengetahuan dan kepedulian generasi muda khususnya siswa Sekolah Menengah Atas
(SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) terhadap dunia pertanian, memberikan
apresiasi secara wajar dan proporsional tentang proses-proses yang berlangsung
pada pembangunan pertanian mulai dari hulu sampai ke hilir, dan memperkenalkan
konsep bisnis dalam bidang pertanian. Peserta yang menjadi sasaran Agri
Training Camp adalah siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah
Pertama (SMP).
Sumber daya lahan untuk pertanian yang ada di Indonesia luasnya mencapai 7,7 juta hektar dengan 2,7 juta hektar diantaranya berupa lahan tadah hujan. Agar sumberdaya lahan yang demikian luasnya tersebut mampu menghasilkan produksi pertanian yang optimal, perlu juga didukung oleh pengoptimalan pengelolaan sumber daya air. Untuk tujuan tersebut dalam pertanian dikenal istilah tata guna air yang diartikan sebagai segala usaha pengelolaan atas air secara optimum sesuai dengan penggunaannya, dan dalam konteks ini adalah pertanian.
Tahun 2009 adalah tahun ke dua bagi saya dalam menjalani tugas di Madagascar untuk melanjutkan South South Cooperation For the “Food Production Program” of JiCA in Madagascar (Alaotra Mangoro region) Project of Improvementof farmers Income by Applying Appropriate Agricultural Techniques in the Republic of Madagascar, seperti pulang kampung lagi rasanya, karena saya sudah tidak merasa asing lagi disana. Keberangkatan ke Madagascar sempat tertunda beberapa kali karena situasi politik yang tidak menentu yang seharusnya pada bulan Desember 2008 menjadi Maret 2009.
Berbicara
sayuran yang beredar di wilayah Gowa, sudah pasti orang langsung akan menyebut
Malino, sebagai penghasil utama sayuran di kabupaten Gowa.Secara fisik memang kondisi iklim di Malino
hampir sama dengan kondisi iklim di Lembang, sentra produksi komoditas
hortikultura yang paling banyak disebut orang.
Begitu
berpotensinya Malino sebagai sentra tanaman sayuran yang mensuplai sayuran
untuk Sulawesi Selatan dan sebagian
sudah merambah pasar Kalimantan, dikawasan tersebut sangat perlu untuk
dikembangkan menjadi kawasan produksi hortikultura yang terintegrasi mulai dari
budidaya pertanian, sortasi/grading, pengemasan, transporatasi, pemasaran dan
kelembagaan sebagai kesatuan mata rantai peredaran komoditas dari produsen ke
konsumen. Hal tersebut terungkap saat kunjungan kerja Menteri Pertanian, Anton
Apriantono, di P4S Buluballea dan LM3 Darul Istiqomah Malino, Gowa Sulawesi
selatan 19 Maret 2009 yang lalu.
LIMBAH PERTANIAN DIBUANG SAYANG
Orang
yang “melihat dengansebenar-benarnya
melihat” begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan
orang-orang khususnya petani yang memanfaatkan limbah pertaniannya sebagai
bahan pupuk untuk tanaman pertaniannya. Cara melihat seperti itulah yang ingin
disebarkan oleh BBPP Batangkaluku melalui Pusat Inkubator Agribisnis (PIA) Unit
Pengolahan Limbah Pertanian dan beberapa pelatihan serta bimbingan teknis
kepada beberapa tenant.